SDN 16 Anggrek berdiri di atas lahan seluas 50 meter x 50 meter dan dibangun pada tahun 2008. Secara fisik, sekolah ini memiliki empat ruang kelas, satu ruang dewan guru, serta satu unit perpustakaan, yang menjadi pusat aktivitas belajar siswa hingga saat ini.
Pada awal pendiriannya tahun 2008, SDN 16 Anggrek belum berstatus sekolah definitif. Sekolah ini masih berfungsi sebagai kelas jauh dari SDN 1 Popalo (yang kini menjadi SDN 2 Anggrek). Dalam periode tersebut, kepemimpinan sekolah secara bertahap berada di bawah Pak Lihawa Mobonggi, kemudian Pak Dauhan Gusasi, dan selanjutnya Pak Abdul Rajak Rauf.
Status sekolah definitif diperoleh pada tahun 2012, dengan nama resmi saat itu SDN 1 Putiana, yang kini dikenal sebagai SDN 16 Anggrek. Kepala sekolah pertama saat definitif adalah Lahmudin Pakaya, S.Pd, yang memimpin fase awal penguatan kelembagaan sekolah secara administratif dan akademik.
Setelah masa kepemimpinan Pak Lahmudin Pakaya, S.Pd, tongkat estafet kepemimpinan sekolah dilanjutkan oleh Ibu Wisnawati Abubakar, S.Pd, yang menjabat sebagai kepala SDN 16 Anggrek hingga saat ini, memimpin pengembangan sekolah dalam aspek akademik, manajerial, dan pembinaan karakter peserta didik.
Pada masa kelas jauh, proses pendidikan dijalankan oleh tenaga pendidik awal, yakni Pak Saprin Lamusu bersama istrinya, Ibu Yulyanti Nusa. Seiring kebutuhan sekolah yang terus berkembang, atas permintaan Kepala Sekolah Lihawa Mobonggi, dilakukan perekrutan tenaga pendidik tambahan, yaitu Ibu Tarli Pomalingo dan Aryanti Taib, untuk memperkuat proses pembelajaran.
Secara visual, lingkungan sekolah masih menunjukkan karakter sederhana dan tradisional, dengan bangunan bambu, atap rumbia, serta ruang kelas semi-terbuka. Namun, di tengah keterbatasan infrastruktur tersebut, aktivitas pendidikan tetap berlangsung aktif, hidup, dan fungsional sebagai ruang belajar formal bagi siswa.
SDN 16 Anggrek bukan hanya sebuah bangunan pendidikan, tetapi representasi perjuangan pendidikan di wilayah pedesaan, yang tumbuh dari kelas jauh, berkembang menjadi sekolah definitif, dan bertahan sebagai ruang pembentukan karakter, literasi, dan masa depan generasi muda Putiana.






0 Komentar