Suasana ruang guru yang semula tenang di tengah penatnya aktivitas belajar mengajar seketika berubah menjadi hangat. Saat jarum jam menunjukkan waktu istirahat kedua, sebuah momen sederhana namun penuh makna terjadi, menggambarkan kuatnya hubungan antara lembaga pendidikan dan masyarakat sekitar.
Di tengah waktu rehat para pendidik setelah menuntaskan sesi pembelajaran di kelas, Ibu Rukmin Kau, atau yang akrab disapa Aci Uki, datang membawa kejutan istimewa. Sosok yang merupakan tetangga dekat sekolah ini mengantarkan hidangan tradisional khas Gorontalo, Bubur Sada (Bubur dila lo binde), khusus untuk para guru.
Bubur Sada yang dihantarkan oleh Aci Uki memiliki karakteristik yang sangat khas. Terbuat dari jagung yang sudah digiling halus, tekstur bubur ini menyerupai bubur nasi yang lembut karena butiran jagungnya sudah pecah saat dimasak. Berbeda dengan hidangan jagung pipil utuh, bubur gurih ini memberikan sensasi yang lebih halus di lidah.
Sajian ini semakin lengkap dengan dampingan Dabu-Dabu Cakalang yang dihaluskan. Perpaduan antara bubur jagung yang lembut dengan sambal ikan cakalang memberikan keseimbangan rasa pedas dan gurih yang menggugah selera.
Sebagai penyeimbang rasa, Aci Uki juga menyertakan Pisang Australia dalam hantarannya. Di Gorontalo, jenis pisang ini memang sering menjadi pendamping kacang kulit sangrai. Kehadiran pisang ini memberikan variasi rasa manis alami yang melengkapi kelezatan dabu-dabu cakalang, sekaligus memberikan tambahan energi bagi para guru untuk melanjutkan tugas mengajar di jam berikutnya.
Momen ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan adalah hasil kolaborasi harmonis antara sekolah dan lingkungan sekitar. Kehadiran Aci Uki dengan perhatian tulusnya menunjukkan bahwa para guru tidak berjuang sendirian dalam mencerdaskan anak bangsa.
Sembari menikmati suapan Bubur Sada yang hangat, para guru dan tetangga sekolah saling bertukar cerita, memperkuat ikatan kekeluargaan yang selama ini telah terjalin dengan baik di lingkungan sekolah.



0 Komentar